kabaislam

Just another WordPress.com site

Cara bersetubuh dengan bini

Posted by islam94 on October 2, 2011

Didalam jima (senggama) terdapat adab-adab yang dianjurkan islam yang mengantarkannya kepada amal islami yang sesuai dengan manusia serta untuk merealisasikan sasaran-sasaran yang diharapkan dari pernikahan. Diantara adab-adab tersebut adalah :

  1. Menggunakan wangi-wangian sebelum berjima.
    Didalam ash Shahihain dari hadits Aisyah berkata,” Sungguh aku pernah memakaikan wewangian kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian Beliau mendatangi isteri-isterinya. Dan pada pagi harinya Beliau mengenakan pakaian ihram dalam keadaan wangi semerbak”
  2. Bercumbu (foreplay) sebelum berjima untuk meningkatkan gairah syahwatnya hingga bisa mendapatkan kenikmatan yang diinginkan.
  3. Berdoa ketika berjima
    Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika salah seorang dari kalian ingin mendatangi istrinya (mengajak bersetubuh), hendaknya mengucapkan; BISMILLAH, ALLAHUMMA JANNIBNAS SYAITHAANA WAJANNIBIS SYAITHAANA MAA RAZAQTANAA (Dengan menyebut nama Allah, ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari apa (anak) yang akan Engkau rizkikan kepada kami), apabila di antara keduanya ditakdirkan mendapatkan anak dari hasil persetubuhan itu, maka anak tersebut tidak akan dicelakakan setan selamanya.”
  4. Macam-macam jima yang dibolehkan : jima tidak diperbolehkan kecuali pada kemaluan yang menjadi tempat melahirkan dan reproduksi baik mendatanginya dari depan maupun belakang.
    Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Jabir berkata; Orang-orang yahudi mengatakan; Jika seorang lelaki menyetubuhi isterinya pada kemaluannya dari arah belakang, maka anak tersebut akan terlahir dalam keadaan cacat matanya (juling). Lalu turunlah ayat: “Isteri-isteri kalian adalah tempat bercocok tanam bagi kalian, maka datangilah tempat bercocok tanam kalian dari mana saja kalian kehendaki.”
  5. Jika seorang suami telah mencapai puncak orgasmenya maka janganlah bersegera menyudahinya sebelum si istri mencapai puncak orgasmenya pula.
  6. Diharamkan menggaulinya ketika sedang haid
    Diriwayakan oleh at Tirmidzi dan Abu Daud dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Barangsiapa menggauli wanita haid, atau menggauli wanita dari dubur, atau mendatangi dukun maka ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
  7. Diharamkan menggauli pada duburnya
    Diriwayatkan oleh Abu Daud dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Terlaknat, orang yang menggauli isterinya pada duburnya.”
  8. Diharamkan menyebarkan apa yang dilakukan suami istri terkait dengan persetubuhan mereka.
    Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Sa’id Al Khudri berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya manusia yang paling jelek kedudukannya di sisi Allah pada Hari Kiamat ialah seseorang yang menyetubuhi istrinya dan istri bersetubuh dengan suaminya, kemudian suami menyebarkan rahasia istrinya.”
  9. Diwajibkan mandi setelah berjima’ walaupun tidak mengeluarkan mani
    Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seorang lelaki duduk di antara empat cabang milik perempuan (maksudnya kedua paha dan kedua tangan), kemudian menekannya maka sungguh dia wajib mandi.”
    Didalam riwayat Muslim pula disebutkan,”Apabila seorang laki-laki duduk di antara cabang empat wanita (maksudnya kedua paha dan kedua tangan) dan bertemulah kelamin laki-laki dengan kelamin wanita maka sungguh telah wajib mandi’.”
    Didalam riwayat at Tirmidzi disebutkan,”Jika khitan bertemu khitan maka telah wajib mandi.”
  10. Menggunakan penutup tatkala berjima’
    Terdapat hadits dalam hal itu akan tetapi lemah, maka tidaklah mengapa tanpa menggunakan penutup (selimut). Didalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika salah seorang dari kalian mendatangi isterinya hendaklah dengan penutup, dan jangan telanjang bulat.”

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

Yang wajib di baca bagi yang belum memeluk islam

Posted by islam94 on August 24, 2011

James D. Frankel adalah seorang profesor bidang perbandingan agama dan sekarang mengajar di Universitas Hawai. Di universitas itu, Frankel juga mengajar mata kuliah tentang Islam dan ia sendiri adalah seorang mualaf.

Dari kediamannya di Honolulu, Hawai, Profesor Frankel berbagi cerita tentang perjalanannya menjadi seorang muslim.

Sebelum pindah ke Hawai dua tahun yang lalu, Frankel menetap di New York, kota tempat ia dilahirkan dan dibesarkan. Frankel tumbuh dalam lingkungan keluarga bahagia. Orang tuanya tidak menerapkan ajaran agama tertentu dan hanya menanamkan nilai-nilai moral, meski sebenarnya keluarga Frankel memiliki latar belakang Yahudi.

Satu-satunya koneksi yang pernah menghubungkannya dengan soal agama adalah nenek dari pihak ayahnya, yang masih menjalankan ajaran-ajaran agama Yahudi. Dari neneknya itulah, Frankel belajar sedikit tentang kisah-kisah dalam alkitab dan kisah-kisah nabi.

Orang tua Frankel pernah mengirimnya ke sekolah Yahudi agar Frankel bisa belajar banyak tentang agama Yahudi. Tapi itu tidak berlangsung lama karena Frankel merasa tidak nyaman di sekolah itu, dan sebenarnya ia dikeluarkan dari sekolah karena terlalu banyak bertanya.

“Mungkin itu sudah karakter saya. Sampai sekarang, sebagai seorang muslim dan seorang prfesor, saya tetap jadi orang yang banyak tanya,” ujar Frankel.

Jadilah ia tumbuh remaja tanpa basis ajaran agaman apapun. Di usia remaja, Frankel punya dua pengalaman yang menurutnya menjadi pengalaman hidup yang penting. Pada usia 13 tahun, Frankel membaca manifesto Karl Marx dan ketika itu ia memutuskan untuk menjadi seorang komunis. Ia terkesan dengan filosofi komunis yang menurutnya bisa menyejahterakan semua orang.

Pada usia itu juga, Frankel merasa untuk pertama kalinya mulai mendengar tentang agama Islam. Karena sekolah di sekolah internasional, Frankel punya teman dari berbagai negara. Salah satu teman baik Frankel saat itu seorang siswa muslim asal Pakistan. Temannya itu memberikan Al-Quran dan ingin Frankel membacanya.
“Saya tidak mau kamu masuk neraka,” ujar Frankel menirukan ucapan temannya saat memberikan Al-Quran.

Frankel mengatakan, selama hidupnya ia tidak pernah memikirkan soal neraka. Ia hanya menerima Al-Quran itu dan menyimpannya di rak buku selama bertahun-tahun. Frankel tidak pernah membuka-bukanya.

Beberapa tahun kemudian, Frankel menjadi ragu dengan komunisme yang dianutnya setelah melihat bagaimana prinsip komunisme di praktekkan di banyak negara. Ia lalu memutuskan untuk tidak lagi menjadi seorang komunis.

Frankel mengungkapkan, sejak kecil sebenarnya ia sudah memikirkan tentang apa makna hidup ini sesungguhnya; mengapa ia ada di dunia ini, kemana ia akan menuju dan mengapa ada orang yang menderita. Tapi pikiran-pikiran hanya mengendap di kepalanya, hingga beranjak dewasa dan kuliah, Frankel hanya memfokuskan aktivitasnya pada belajar. Hingga ia mengalami hal yang akan membawa perubahan padanya, kematian nenek dimana Frankel pernah belajar tentang Alkitab dan kisah nabi-nabi.

Kematian Nenek yang Mendadak

Pengalaman ini menggetarkan hati Frankel. Betapa tidak, sehari sebelum ia menerima kabar kematian sang nenek, Frankel dan neneknya sempat menikmati makam malam. Waktu itu, Frankel masih mahasiswa dan tinggal di Washington DS, ia mendapat kejutan berupa kunjungan nenek, bibi dan seorang sepupunya.

Frankel menghabiskan waktu sepanjang sore berbincang-bincang dengan neneknya. Frankel menceritakan keinginannya untuk pindah kuliah dan memperdalam studi tentang China. Malamnya, Frankel, nenek, bibi dan sepupunya pergi keluar untuk makam malam. Frankel tidak melihat tanda-tanda bahwa itulah malam terakhir ia bertemu dengan neneknya. Setelah makan malam, Frankel diantar pulang ke asrama.

Pagi dinihari, Frankel dikejutkan oleh dering telepon dari sepupunya, mengabarkan bahwa nenek meninggal dunia. Franke kaget dan tak percaya. Sepupunya bilang, nenek terkena serangan jantung saat tidur. Frankel langsung terbayang kembali pertemuan dengan neneknya semalam, ia tak menyangka neneknya akan “pergi” secepat ini.

Frankel pulang ke New York untuk menghadiri pemakaman neneknya. Pemakaman dilakukan dengan tradisi Yahudi. Pada Rabbi yang memimpin pemakaman, Frankel menanyakan tentang tradisi yang dilakukan keluarga Yahudi saat salah satu anggota keluarga meninggal dunia. Ia menanyakan, mengapa saat pemakaman, Rabbi mengatakan bahwa nenek sudah diambil kembali oleh Tuhan.

“Lalu dimana nenek sekarang? Setelah diambil Tuhan, kemana nenek pergi? kemana kita juga akan pergi, dan mengapa kita ada di dunia ini,” tanya Frankel pada Rabbi ketika itu.
Mendengar pertanyaan-pertanyaan itu, sang Rabbi, ungkap Frankel, melihat jam tangannya dan berkata, “Saya harus pergi” tanpa memedulikan betapa marahnya Frankel mengalami hal semacam itu, pertanyaan-pertanyaannya sama sekali tak dijawab.

Mencari Kebenaran

Frankel mencoba mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya itu. Saat itu, usia Frankel masih 19 tahun. Ia mengunjungi komunitas Yahudi, tapi jawaban yang diberikan tidak memuaskannya. Orang-orang Yahudi itu mengatakan, Tuhan–yang ingin diketahui Frankel–adalah satu-satunya Tuhan milik orang Yahudi.

Akhirnya, Frankel memutuskan untuk belajar sendiri. Ia mulai membaca isi Alkitab. Saat berkunjung ke Inggris, ia didekati oleh sejumlah orang penganut Kristen Evangelis. Tentu saja orang-orang itu ingin menarik Frankel sebagai penganut Kristen Evangelis, dan Frankel berpikir untuk mencobanya.

Saat membaca Alkitab, Frankel merasakan cinta yang kuat dan penghormatan terhadap Yesus. Tapi yang tidak bisa diterimanya, Alkitab menyuruhnya menerima Yesus sebagai Tuhan dan penyelamatnya. Bagi Frankel, Yesus tidak lebih seperti kakak kesayangan atau seperti seorang guru. Lagi-lagi Frankel merasa tidak menemukan jawaban yang memuaskan atas pertanyaan-pertanyaannya tentang ketuhanan.

Frankel kembali mempelajari hal-hal lainnya, mulai dari filosofi agama Budha, filosofi Yunani, Romawi dan sejarah. Tapi semuanya belum menjawab pertanyaan Frankel. Saat kembali ke New York dari Inggris, Frankel bertemu dengan beragam pemuka agama. Ia mencoba berdiskusi dengan mereka soal agama, meski ia sendiri skeptis.

Interaksi dengan Al-Quran dan Menjadi Muslim

Interaksinya pertama Frankel dengan Quran berawal ketika ia bertemu dengan para aktivis Nation of Islam. Salah seorang diantara aktivis itu memberinya salinan Surat Al-Kahf beserta terjemahannya. Frankel membawa salinan salah satu surah dalam Quran itu ke rumah, dan ia teringat akan Al-Quran yang pernah diberikan temannya enam tahun yang lalu.

Frankel mulai membaca isi Al-Quran lembar demi lembar. Frankel merasakan sesuatu yang berbeda dibandingkan ketika ia membaca Alkitab. Membaca Quran, Frankel merasa Tuhan sedang bicara langsung padanya. Di satu titik, Frankel pernah sampai meneteskan air mata, merinding, ia merasa bulu kuduknya berdiri, saat membaca isi Al-Quran.

Januari 1990, Frankel bertemu dengan teman-temannya semasa sekolah menengah. Mereka minum kopi sambil berbincang menanyakan kabar masing-masing. Seorang teman yang tahu bahwa dulu Frankel adalah seorang komunis bertanya, “Apa yang kamu yakini sekarang?” dan spontan Frankel menjawab, “Yah, saya percaya pada Tuhan. Hanya ada satu Tuhan.”

Jawaban itu tentu saja membuat teman-temannya terpana. Mereka bertanya, darimana Frankel tahu bahwa Tuhan itu satu. Frankel menjawab, ia tahu dari Al-Quran. Salah seorang temannya yang muslim menanyakan apakah Frankel membaca Quran, dan oleh sebab itu, Frankel pun harus percaya bahwa Quran adalah pesan-pesan Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Frankel menjawab “ya”, ia percaya Muhammad utusan Allah. Temannya lalu mengatakan, maka Frankel sudah menjadi seorang muslim.

Frankel hanya tertawa mendengar perkataan temannya yang asal Pakistan itu. “Saya seorang muslim? Kamu yang muslim, kamu dari Pakistan. Saya cuma orang yang percaya pada Tuhan,” tukas Frankel.

Tapi temannya bersikeras, “Tidak, kamu adalah seorang muslim. Kamu percaya tidak ada Tuhan selain Tuhan yang satu dan percaya bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Maka, kamu adalah seorang muslim.”

Frankel syok mendengar perkataan sahabatnya itu.

Selama beberapa hari kemudian, ia memikirkannya. Frankel memutuskan untuk menelpon Mansour, teman yang dulu memberinya Al-Quran. Mansour kuliah di Pennsylvania dan bekerja di Asosiasi Mahasiswa Muslim di sana. Frankel meminta Mansour mengirimkan literatur-literatur tentang Islam dan persyaratan untuk menjadi seorang muslim.
Mansour mengiriminya sekira dua buku.

Dari buku-buku itu, Frankel membaca tentang rukum Islam, bagaimana caranya salat, wudu dan ucapan dua kalimat syahadat.

Frankel mulai mempraktekkan salat diam-diam di kamarnya–karena waktu itu ia sudah tinggal lagi dengan orang tuanya–bahkan untuk pertama kalinya ia ikut berpuasa di bulan Ramadan. Kondisi itu berlangsung hampir 8 bulan, dan itulah kehidupan pertamanya sebagai muslim.

Frankel tak bisa menyembunyikan keinginannya lagi. Ia menceritakan semua pada orang tuanya bahwa ia ingin menjadi seorang muslim. Ibunya bereaksi keras, menangis dan menanyakan mengapa semua ini bisa terjadi.

Hubungan Frankel dengan kedua orang tuanya jadi kaku. Frankel mencoba meyakinkan ayah ibunya bahwa ia menjadi mahasiswa dan manusia yang lebih baik setelah memeluk Islam.

“Alhamdulillah, kedua orang tua saya akhirnya menerima keislaman saya. Buat saya, ini adalah perjalanan selama hampir 20 tahun dan hanya Allah yang tahu, bagaimana dan kemana semua ini akan berakhir,” ujar Frankel.

“Maka pesan saya bagi para mualaf maupun mereka yang sudah lama menjadi muslim, untuk selalu bersabar dan lihatlah kejutan yang akan diberikan Allah pada kita, bukan dengan ketakutan tapi dengan cinta dan harapan,” tukas Frankel.

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

bergaul dengan istri tanpa jima’ tapi onani dengan tangan istri di bulan ramadhan

Posted by islam94 on August 24, 2011

Perbuatan diatas termasuk onani (masturbasi) karena pengertian onani didalam fiqih islam adalah mengeluarkan mani dengan menggunakan tangan baik tangan istrinya atau tangan budak perempuannya.

Didalam kitab “al Mausu’ah dl Fiqhiyah” disebutkan bahwa onani dengan menggunakan tangan membatalkan puasa sebagaimana dikatakan para ulama Maliki, Syafi’i, Hambali serta pada umumnya para ulama Hanafi karena persetubuhan yang tidak menumpahkan mani membatalkan puasa terlebih jika ia menumpahkan mani dengan syahwat.

Abu bakar bin al Iskaf dan Abu al Qasim dari kalangan Hanafi mengatakan,”Hal demikian (Onani) tidaklah membatalkan puasa karena tidak adanya jima’ baik dari sisi bentuk maupun maknanya.”

Namun tidaklah diwajibkan atasnya kafarat meskipun ia membatalkan puasa, demikian menurut Syafi’i dan Maliki—Hal ini bertentangan dengan pendapat yang dipegang oleh Maliki dan salah satu pendapat Hambali—karena perbuatan itu menjadikannya berbuka tanpa terjadi jima’ dan juga karena tidak ada nash maupun ijma’ dalam permasalahan ini yang mewajibkan kafarat.

Sedangkan pendapat yang dipegang oleh Maliki adalah diwajibkan atasnya kafarat dan qadha, ini juga riwayat dari Ahmad serta pada umumnya riwayat ar Rafi’i dari kalangan Syafi’iyah serta apa yang diceritakan dari Abi Khalaf ath Thabari dimana perbuatan itu menuntut diwajibkannya kafarat terhadap setiap yang berbuka karena perbuatan tersebut (onani). Dalil diwajibkannya kafarat adalah karena perbuatan itu menyebabkan tumpahnya mani yang menyerupai jima’ (al Mausu’ah al Fiqhiyah juz I hal 1159)

Pada dasarnya tidak mengapa melakukan onani dengan tangan istrinya jika hal itu dilakukan di luar bulan Ramadhan atau pada malam hari Ramadhan atau mereka berdua termasuk orang yang mendapatkan rukhshah (keringanan) untuk tidak berpuasa dikarenakan sakit atau safar.

Akan tetapi apabila onani dilakukan pada siang hari Ramadhan padahal mereka berdua tidak termasuk orang yang mendapatkan rukhsah tidak berpuasa maka perbuatan itu membatalkan puasa, diwajibkan atas keduanya qadha serta bertaubat kepada Allah swt namun tidak diwajibkan atas keduanya kafarat karena kafarat tidaklah dikenakan kecuali terhadap orang yang melakukan jima’.

Jika seorang mengidap hiperseks maka tetap diharuskan baginya untuk berusaha berpuasa ramadhan dan menyibukkan dirinya dengan amal-amal bermanfaat agar mengurangi hasrat atau libido seksualnya terutama di siang hari. Akan tetapi jika hal demikian pun tidak bisa mengurangi libido seksualnya dan dirinya khawatir terjatuh kedalam kemudharatan yang lebih besar maka diperbolehkan baginya berbuka sepertihalnya seorang yang sedang sakit yang dibolehkan baginya berbuka dan diwajibkan atasnya qadha. Namun jika dirinya berbuka maka janganlah dia mengajak pasangannya di siang hari untuk melakukan jima’ atau masturbasi.

Hendaklah dirinya berkonsultasi dengan dokter ahli agar keadaan yang dialaminya itu tidak mengganggu puasanya dan yang terpenting adalah berdoa kepada Allah swt memohon bantuan dan pertolongannya dalam permasalahan ini.

Wallahu A’lam

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

taubatnya sang penjagal

Posted by islam94 on August 13, 2011

Manakala seorang hamba berbuat dosa, durhaka, kesalahan atau keburukan, Allah berfirman kepadanya, “Wahai hamba-Ku, kembalilah kepada-Ku. Bertaubatalah niscaya Aku akan mengampunimu.”

Allah Ta’ala telah berfirman dalam Kitab-Nya :

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Katakanlah, “Hai hamba-hamba-Ku yang melampui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar [39] : 53)

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat Allah, lalu memohon amun atas dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah”. (QS. Ali-Imran [3] : 135)

Tiada yang memaafkan kekurangan-kekurangan, kecuali hanya Allah, dan tiada yang mengampuni dosa-dosa, selain hanya Allah.

وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.”(QS. Ali-Imran [3] : 135)

Wahai saduraku yang muslim, yang bertaubat, lagi kembali ke jalan-Nya, berikuti ini sebua berita dari Rasulullahshallahu alaihi wa sallam, pembawa hidyah yang di dalamnya diceritakan kisah tentang seorang lekaki yang hidup pada masa silam. Lelaki tersebut telah melakukan dosa yang sangat jelas dan kekeliruan yang fatal serta mengerjakan suatu kejahatan yang paling besar dalam sejarah umat manusia.

Dalam sebuah hadist yang dikategorikan oleh Bukhari dan Muslim secara sepakat disebutkan bahwa dahulu di kalangan orang-orang yang sebelum kalian —yakni kaum Bani Israel— ada seorang lelaki yang telah membunuh 99 orang.

Lekaki ini telah berlumuran darah. Jari-jemarinya, pakaiannya, tangan, dan pedangnya, semuanya basah oleh darah, karena telah membunuh 99 orang dari kalangan orang-orang yang jiwanya terpelihara.

Padahal seandainya semua penduduk bumi dan penduduk langit bersatu padu untuk membunuh lelaki muslim, tentulah Allah akan mencampakkan mereka semua dengan mukadi bawah ke dalam Neraka. Maka terlebih lagi dengan seseorang yang datang dengan pedang yang terhunus, sikap yang kejam, jahat, lagi emosi, akhirnya dia membunuh 99 orang.

Lelaki pelaku kejahatan ini telah melumuri dirinya dengan darah banyak orang dan membinasakan banyak jiwa yang diharamkan oleh Allah membunuhnya serta mencabut nyawa mereka. Sesudah dirinya berlumuran dengan kejahatan dan dosa besar ini, ia menyadari kesalahannya terhadap Allah.

Ia pun berpikir tentang pertemuannya dengan Allah nanti, teringat saat hari kedatangannya kepada Allah untuk mempertanggungjawabkan semua dosanya. Dia menyakini bahwa tiada yang mengampuni dosanya, yag menghukumnya, yang menghisabnya, dan yang membenci seorang hamba karena dosa, kecuali Allah Ta’ala.

“Selanjutnya, ia berpikir untuk kembali dan bertaubat kepada-Nya agar Dia membebaskannya dari neraka.

Sesungguhnya para raja pun,

bila budak-budaknya telah beruban dalam perbudakannya, mereka pasti akan memerdekannya, dengan pembebasan yang baik,

Dan Engkau, wahai penciptaku jauh lebih murah daripada itu,

Sekarang sungguh aku telah beruban dalam penghambaan diri,

maka bebaskanlah diriku dari Neraka”.

Maka keluarlah ia dengan pakaian yang berlumuran darah, sedang pedangnya masih meneteskan darah segar dan jari-jemarinya berbelepotan darah. Ia datang bagaikan seorang yang mabuk, terkejut, lagi ketakutan seraya bertanya-tanya kepada semua orang, “Apakah aku masih bisa diampuni?”

Dia menyadari bahwa tiada yang dapat memeri fatwa dalam masalah ini, kecuali hanhya orang-orang yang ahli dalam hukum Allah. Ia pun pergi ke sana, ke tempt rahib itu, seorang ahli ibadah dari kalangan kaum Bani Israel yang belum pernah merasakan manisnya limu dan tidak pernah membekali dirinya dengan pengetahuan, penelitian, dan penguasaan terhadap masalah-masalah agama. Dia hanya melakukan ibadahnya menurut tata cara yang dibuat-buatnya sendiri tanpa ada dalil, baik dari syariat maupun agama.

وَرَحْمَةً وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ إِلَّا ابْتِغَاءَ رِضْوَانِ اللَّهِ فَمَا رَعَوْهَا حَقَّ رِعَايَتِهَا ۖ

“Dan mereka mengada-adakan kerahiban, padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka, tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestina.” (QS. Al-Hadid [57] : 27)

Sesungguhnya agama itu bila tidak dibarengi dengan cahaya hidayah dan ilmu sama dengan kesesatan dan bid’ah yang bertumpang-tindih antara yang satu dan yang lainnya.

Ia pun pergi dengan langkah yang cepat dengan penuh penyesalan, karena dosa-dosanya yang telah dilakukan, lalu ia mengetuk pintu kuil si rahib itu.

Rahib itu mengharamkan atas dirinya daging, makanan yang baik, pakaian yang baik, dan kawin itu, padahal Allah tidak mengharamkan semuanya itu atas dirinya. Dia lakukan hal itu, karena kejahilannya tentang maksud Allah Ta’ala. Ia pun keluar menyambutnya.

Lelaki penjahat ini masuk dan ternyata pakaiannya masih berlumuran arah segar, membuat si rahib kaget, dan terkejut bukan kepalang. Si rahib berkata, “Aku berlindung kepada Allah dari kejahatanmu”.

Sambutan ini jelas bukan tata cara yang biasa digunakan oleh para ulama dan para da’i yang menghendaki hidayah bagi manusia, karena pintu Allah selalu terbuka, pemberiannya senantiasa datang dan pergi, pahala-Nya senantiasa terbuka pada malam hari untuk menerima taubat orang-orang yang berdosa pada siang harinya, dan senantiasa terbuka pada siang hari untuk menerima taubat orang-orang yang berdoa pada malam harinya, hingga matahari terbit dari arah tenggelamnya (hari Kiamat).

Si penjahat bertanya, “Wahai rahib ahli ibadah, aku telah membunuh 99 orang, maka masih adakah jalan bagiku untuk bertaubat?” Rahib jahil itu menjawab, “Tiada taubat bagimu”.

Mahasuci Allah, apakah engkau menutup pintu yang selalu dibuka oleh Allah? Apakah engkau memutuskan tali yang telah dijulurkan oleh Allah? Apakah engkau mencegah hujan yang telah dirutunkan oleh Allah? Apakah engkau menutup jalan masuk yang telah Allah buat?

Padahal Allahlah yang menciptakan. Allah lah yang telah menetapkan, Allah yang memberikan ampunan, Allahlah yang menghisab, Allahlah yang berbisik kepada seorang hamba pada hari yang tiada bermanfaat lagi harta benda dan anak-anak, kecuali orang yang bersih, lalu Allah menyuruhnya mengakui dosa-dosanya, kemudian Allah mengampuninya, jika Dia menghendaki. Maka apakah urusanmu, hari rahib, sehingga engkau ikut campur dalam urusan antara para hamba dengan Tuhannya.

Apakah engkau memang seorang yang ahli untuk memberi fatwa dalam masalah ini? Bukan, engkau bukanlah seorang yang ahli dalam bidang ini. Hal ini hanya bisa ditangani oleh para ulama yang mengamalkan ilmunya lagi mengetahui tujuan syari’at-Nya.

Akhirnya si penjahat ini putus asa memandang kehidupan ini. Di matanya dunia ini terasa gelap, kehendak dan tekadanya melemah, dan keindahan yang terlihat diwajahnya menjadi buruk. Ia pengangkat pedangnya dan membunuh rahib ini, sebagai balasan yang setimpal untuk guna menggenapkan 100 orang manusia yang telah dibunuh.

Selanjutnya, ia keluar menemui orang-orang guna menanyakan kembali mereka, bukan karena alasan apapun, melainkan karena jiwanya sangat menginginkan untuk taubat dan kembali ke jalan Tuhannya ser ta menghadap kepada-Nya. Ia bertanya kepada mereka, “Masih adakah jalan untuk bertaubat bagiku?”

Sehubungan dengan pengertian ini, Allah Ta’ala menegaskan dalam firman-Nya :

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, yagn menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu).” (QS. Ali-Imran [3] : 18)

Si penjahat itu pergi dan menemui orang alim itu, yang berada di dalam majelisnya sedang mengajari generasi dan mendidik umat.

Orang alim itu pun tersenyum menyambut kedatangannya, begitu melihatnya, ia langsung menyambutnya dengan hangatdan mendudukkannya di sebelahnya setelah memeluk dan menghormatinya. Ia bertanya, “Apakah keperluanmu datang ke mari?” Ia menjawab, “Aku telah membunuh 100 orang yang terpelihara darahnya, maka masih adakah jalan taubat bagiku?”.

Orang alim itu balik bertanya, “Lalu siapakah yang menghalang-halangi antara kamu dengan taubat dan siapakah yang mencegahmu dari melakukan taubat? Pintu Allah terbuka lebar bagimu, maka bergembiralah dengan ampunan, “Bergembiralah dengan perkenan dariNya dan bergembiralah dengan taubat yang mulus”. Ia berkata, “Aku kepada Allah semoga Dia menerima taubatmu”.

Orang alim itu berkata kepadanya, “Sesungguhnya engkau tinggal di kampung yang jahat, karena sebagian kampung dan sebagian kota itu adakalanya memberikan pengaruh untuk berbuat kedurhakaan dan kejahatan bagi pra penghuninya. Barangsiapa lemah imannya ditempat seperti ini, maka ia akan mudah berbuat durhaka dan terasa ringanlah baginya semua dosa, serta menggampangkannya untuk melakukan tindakan menentang Tuhannya.”Wallahu’alam.

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

I’tikaf itu hanya di mesjid

Posted by islam94 on August 13, 2011

Tidaklah Beritikaf Kecuali di Masjid Para fuqaha bersepakat bahwa tidak sah itikaf kecuali di masjid berdasarkan firman Allah swt : وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ Artinya : “Sedang kamu beri’tikaf didalam mesjid.” (QS. Al Baqoroh : 187) Serta mengikuti Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam karena tidaklah beliau beritikaf kecuali di masjid. Dan masjid yang paling afdhal adalah al Masjidil Haram kemudian Masjid an Nabawi kemudian al Masjid al Aqsha berdasarkan sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam,”Shalat di masjidku ini nilainya seribu kali lebih baik dibandingkan pada masjid lain kecuali pada Al Masjidil Haram”. (Muttafaq Alaihi dari Abu Hurairah) Dan diriwayatkan oleh at Thabarani dari Abu ad Darda marfu’, “ Shalat di masjid al Haram bernilai seratus ribu kali shalat dan shalat di masjidku bernilai seribu kali shalat sedang shalat di masjid al Maqdis bernilai lima ratus kali shalat.” (Hadits ini dihasankan oleh al Bazzar) Para ulama juga bersepakat bahwa Masjid Jami boleh dipakai untuk beritikaf dan ia lebih utama setelah ketiga masjid diatas daripada masjid-masjid lainnya. Namun mereka berselisih terhadap yang bukan Masjid Jami’ dan pendapat yang kuat adalah boleh beritikaf di masjid tersebut apabila didalamnya dilaksanakan shalat jamaah, ini adalah pendapat Imam Ahmad dan Abu Hanifah berdasarkan perkataan Aisyah,”Diantara perbuatan sunnah bagi seorang yang beritikaf adalah tidak keluar kecuali untuk menunaikan hajat manusia dan tidaklah beritikaf kecuali di masjid (yang terdapat shalat) jamaah.” (dishahihkan oleh al Albani). Para ulama Syafi’i berpendapat bahwa itikaf bisa dilakukan di masjid apa pun, ini juga pendapat para ulama Maliki meskipun mereka mesyaratkan bahwa masjid itu haruslah yang mubah dan jami’ bagi orang yang diwajibkan atasnya shalat jumat.  Dengan demikian itkaf tidak boleh dilakukan didalam rumah atau mushalla didalam rumah atau tempat-tempat yang dikhususkan untuk shalat didalam rumah berdasarkan firman Allah swt : وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ Artinya : “Dan janganlah kamu campuri mereka itu sedang kamu beri’tikaf di mesjid.” (QS. Al Baqarah : 187) Waktu Memulai Itikaf Sedangkan bagi seseorang yang berniat itikaf di sepuluh malam terakhir maka hendaklah dia memasuki masjid atau memulai itikafnya sebelum terbenam matahari di malam 21, sebagaimana pendapat jumhur ulama. Hal-hal yang Membatalkan Itikaf Itikaf seseorang bisa batal atau rusak dikarenakan beberapa perbuatan berikut : Berjima’ atau perbuatan-perbuatan muqaddimahnya. Keluar dari masjid bukan untuk suatu keperluan mendesak. Gila. Murtad. Haidh dan Nifas bagi seorang wanita. Wallahu A’lam

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

batalkah puasa dengan obat yang di hisap lewat hidung?

Posted by islam94 on August 13, 2011

Al Lajnah ad Daimah didalam fatwanya tentang permasalahan ini menyebutkan bahwa obat asma yang digunakan oleh seseorang yang sakit dengan cara dihirup (disemprotkan) sampai ke paru-paru melalui trakhea namun tidak sampai ke perut. Ia tidaklah termasuk makanan, minuman atau sejenis keduanya.

Akan tetapi ia mirip dengan sesuatu yang menetes pada urethral (saluran kencing) atau seperti berobat dengan sesuatu yang kering, larutan, yang disuntikan ke dalam dubur dan sejenisnya yang sampai ke otak atau tubuh selain mulut atau hidung.

Hal-hal diatas masih diperdebatkan oleh para ulama; apakah penggunaan itu semua dapat membatalkan puasa seseorang?

Diantara mereka ada yang berpendapat bahwa penggunaan itu semua tidaklah membatalkan puasa. Sedang para ulama lainnya berpendapat bahwa penggunaan sebagian dari jenis-jenis itu membatalkan puasa dan tidak pada sebagian yang lainnya, namun mereka bersepakat bahwa penggunaan benda-benda tersebut tidaklah disebut makan dan minum.

Akan tetapi mereka yang berpendapat hal itu membatalkan puasa menjadikannnya kedalam hukum keduanya (makanan dan minuman, pen) dan penggunaan alat-alat tersebut masuk kedalam perut dengan kemauan sendiri. Terdapat sabda Nabi saw,”Keras-keraslah kamu dalam berisitinsyaq (memasukkan air kedalam hidung) kecuali jika kamu sedang berpuasa.”

Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam mengecualikannya terhadap seorang yang berpuasa dikhawawtirkan air itu sampai ke tenggorokan atau perutnya karena terlalu kuatnya dalam beristinsyaq sehingga membatalkan puasa. Dengan demikian hal ini menjadi dalil bahwa setiap yang masuk kedalam perut dikarenakan kemauannya maka membatalkan puasa.

Sedang mereka yang tidak menghukum hal itu dengan membatalkan puasa, seperti : Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dan para ulama lainnya yang bersepakat dengannya berpendapat bahwa qiyas permasalahan ini dengan makan dan minum tidaklah benar. Tidak ada dalil yang menegaskan bahwa segala sesuatu yang sampai ke otak atau tubuh atau apa yang masuk melalui lubang atau ke perut membatalkan puasa.

Dan tidak adanya dalil syar’i yang menjadikan salah satu sifat dari sifat-sifat tersebut sebagai sandaran untuk menghukum berbuka bagi orang yang berpuasa. Serta menjadikan hal ini kedalam makna sesuatu yang masuk kedalam tenggorokan atau perut seperti air dikarenakan kerasnya istinsyaq juga tidak benar karena adanya perbedaan.

Sesungguhnya air adalah makanan, jika ia sampai ke tenggorokan atau perut dapat membatalkan puasa baik masuknya melalui hidung atau mulut karena keduanya adalah satu saluran. Oleh karena itu tidaklah batal puasa hanya karena berkumur-kumur atau beristinsyaq yang tidak sekuat-kuatnya dan ini tidaklah dilarang…

Jadi tampak bahwa penggunaan obat yang dihirup (atau disemprotkan, pen) tidaklah termasuk hukum makanan minuman atau sejenisnya dari segala sisi yang dapat membatalkan puasa. (al Lajnah ad Daimah No. 1240) – http://www.alifta.net
Wallahu a’lam

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

mandi junub setelah matahari terbit

Posted by islam94 on August 13, 2011

Dibolehkan bagi seseorang yang junub dimalam hari Ramadhan baik dikarenakan bermimipi atau berhubungan dengan pasangannya untuk mandi setelah lewat waktu imsak bahkan dibolehkan mengakhirkan mandinya setelah waktu shubuh datang tanpa merusak puasanya, sebagaimana hal itu pernah dilakukan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummu Salamah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mendapati waktu subuh dalam keadaan junub karena jima’, bukan karena mimpi. Namun beliau tidak Ifthar (berbuka) dan tidak pula meng-qadla` (mengganti) puasanya.

Dan bagi yang melakukan mandi junub setelah datang waktu shubuh hendaklah tetap berupaya agar tidak ketinggalan shalat shubuh berjamaah di masjid.

Akan tetapi diharamkan bagi seseorang yang junub untuk mengakhirkan mandinya hingga matahari terbit karena bisa dipastikan bahwa orang itu tidak melaksanakan shalat shubuh pada waktunya.

Wallahu A’lam

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

hukum final dengan kafir berkitab

Posted by islam94 on August 8, 2011

Berikut ini kami sampaikan beberapa contoh penegasan al-Qur’an tentang ahli Kitab dan hakikat sesuatu yang mereka yakini. Kemudian kami memaparkan sikap-sikap riil mereka terhadap Islam dan para penganutnya, sikap-sikap yang mengharuskan hukum-hukum final dalam berinteraksi dengan mereka itu.

Di Makkah tidak ada komunitas Yahudi atau Nasrani dalam jumlah dan peran yang layak diperhitungkan. Di sana hanya ada individu-individu. Al-Qur’an bercerita tentang mereka baha mereka menyambut dakwah baru kepada Islam ini dengna suka cita, pembenaran, da penerimaan, dan mereka masuk Islam serta bersaksi untuknya dan untuk Rasul-Nya bahwa ia adalah kebenaran yang telah diterakan dalam kitab mereka. Bisa dipastikan mereka adalah dari kalangna pemeluk agama Nasrani dan Yahudi yang masih tetap dalam tauhid dan dari kelompok orang yang masih punya sedikit sisa dari kitab-kitab yang diturunkan tentang orang-orang ini turun ayat-ayat seperti dibawah ini:

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ مِن قَبْلِهِ هُم بِهِ يُؤْمِنُونَ (52)وَإِذَا يُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ قَالُوا آمَنَّا بِهِ إِنَّهُ الْحَقُّ مِن رَّبِّنَا إِنَّا كُنَّا مِن قَبْلِهِ مُسْلِمِينَ (53)

Orang-orang yang telah Kami datangkan kepada mereka Al Kitab sebelum Al Quran, mereka beriman (pula) dengan Al Quran itu. Dan apabila dibacakan (Al Quran itu) kepada mereka, mereka berkata: “Kami beriman kepadanya; sesungguhnya; Al Quran itu adalah suatu kebenaran dari Tuhan kami, sesungguhnya kami sebelumnya adalah orang-orang yang membenarkan(nya). (QS. al-Qashash [28] : 52-53)

وَيَقُولُونَ سُبْحَانَ رَبِّنَا إِن كَانَ وَعْدُ رَبِّنَا لَمَفْعُولًا (108)وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا ۩ (109)

Dan mereka berkata, “Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi”. Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’. (QS. al-Isra’ [17] : 108-109)

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِن كَانَ مِنْ عِندِ اللَّهِ وَكَفَرْتُم بِهِ وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِّن بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَىٰ مِثْلِهِ فَآمَنَ وَاسْتَكْبَرْتُمْ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (10)

Katakanlah, “Terangkanlah kepadaku, bagaimanakah pendapatmu jika al-Qur’an itu datang dari sisi Allah, padahal kamu mengingkarinya dan seorang saksi dari Bani Israel mengaku (kebenaran) yang serupa dengan (yang tersebut dalam) al-Qur’an lalu ia beriman, sedang kamu menyombongkan diri. Sesungguhnya Allah tiada pemberi petunjuk kepda orang-orang yang zalim.” (QS. al-Ahqaf [46] : 10)

وَكَذَٰلِكَ أَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ ۚ فَالَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يُؤْمِنُونَ بِهِ ۖ وَمِنْ هَٰؤُلَاءِ مَن يُؤْمِنُ بِهِ ۚ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا الْكَافِرُونَ

“Dan demikian (pulalah) Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran). Maka orang-orang yang telah kami berikan kepada mereka Al Kitab (Taurat) mereka beriman kepadanya (Al Quran); dan di antara mereka (orang-orang kafir Mekah) ada yang beriman kepadanya. Dan tiadalah yang mengingkari ayat-ayat kami selain orang-orang kafir.” (QS. al-Ankabut [29] : 47)

أَفَغَيْرَ اللَّهِ أَبْتَغِي حَكَمًا وَهُوَ الَّذِي أَنزَلَ إِلَيْكُمُ الْكِتَابَ مُفَصَّلًا ۚ وَالَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْلَمُونَ أَنَّهُ مُنَزَّلٌ مِّن رَّبِّكَ بِالْحَقِّ ۖ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ (114)

Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Quran) kepadamu dengan terperinci? Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al Quran itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu.(QS. al-Anam [6] : 114)

وَالَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَفْرَحُونَ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ ۖ وَمِنَ الْأَحْزَابِ مَن يُنكِرُ بَعْضَهُ ۚ قُلْ إِنَّمَا أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ وَلَا أُشْرِكَ بِهِ ۚ إِلَيْهِ أَدْعُو وَإِلَيْهِ مَآبِ

Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepada mereka bergembira dengan kitab yang diturunkan kepadamu, dan di antara golongan-golongan (Yahudi dan Nasrani) yang bersekutu, ada yang mengingkari sebahagiannya. Katakanlah “Sesungguhnya aku hanya diperintah untuk menyembah Allah dan tidak mempersekutukan sesuatupun dengan Dia. Hanya kepada-Nya aku seru (manusia) dan hanya kepada-Nya aku kembali”. (QS. ar-Ra’d [13] : 36)

Respon positif ini juga berulang kali muncul di Madinah dari beberapa individu, mereka telah diceritakan oleh al-Qur’an dalam beberapa situasi di surat-surat Madaniyah, di sebagiannya ditegaskan secara eksplisit bahwa mereka dari kelompok orang-orang Nasrani, karna orang-orang Yahudi telah mengambil sikap berbeda dengan sikap yang diambil oleh beberapa individu dari mereka di Makkah, pada saat mereka mulai merasakan bahaya Islam di Madinah.

وَإِنَّ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَمَن يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْكُمْ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْهِمْ خَاشِعِينَ لِلَّهِ لَا يَشْتَرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۗ أُولَٰئِكَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ (199)

Dan sesungguhnya diantara ahli kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan kepada mereka sedang mereka berendah hati kepada Allah dan mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. Mereka memperoleh pahala di sisi Tuhannya. Sesungguhnya Allah amat cepat perhitungan-Nya.(QS. Ali-Imran [3] : 199)

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِّلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا ۖ وَلَتَجِدَنَّ أَقْرَبَهُم مَّوَدَّةً لِّلَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ قَالُوا إِنَّا نَصَارَىٰ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّ مِنْهُمْ قِسِّيسِينَ وَرُهْبَانًا وَأَنَّهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ (82)وَإِذَا سَمِعُوا مَا أُنزِلَ إِلَى الرَّسُولِ تَرَىٰ أَعْيُنَهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ مِمَّا عَرَفُوا مِنَ الْحَقِّ ۖ يَقُولُونَ رَبَّنَا آمَنَّا فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ (83)وَمَا لَنَا لَا نُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَمَا جَاءَنَا مِنَ الْحَقِّ وَنَطْمَعُ أَن يُدْخِلَنَا رَبُّنَا مَعَ الْقَوْمِ الصَّالِحِينَ (84)أَثَابَهُمُ اللَّهُ بِمَا قَالُوا جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الْمُحْسِنِينَ (85)

Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya kami ini orang Nasrani”. Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menymbongkan diri. Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Quran) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Quran dan kenabian Muhammad s.a.w.). Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang saleh?”. Maka Allah memberi mereka pahala terhadap perkataan yang mereka ucapkan, (yaitu) surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya. Dan itulah balasan (bagi) orang-orang yang berbuat kebaikan (yang ikhlas keimanannya). (QS. al-Maidah [5] : 82-85)

Tetapi, sikap individu-individu tersebut tidak menceriminkan sikap mayoritas Ahli Kitab di Jazirah Arab, terutama ahli Kitab dari kalangan Yahudi. Sebab, sejak merasakan bahaya Islam di Madinah, mereka telah mempropagandakan peperangan yang keras terhadap Islam. Mereka menggunakan seluruh sarana yang telah dikisahkan al-Qur’an tentang mereka dalam banyak ayat. Dan, dalam waktu yang sama mereka juga menolak masuk Islam, memungkiri berita kerasulan Muhammad Shallahu alaihi wassalamWallahlu’alam.

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

siapa punn yang mau pasti merasa damainya agama ini

Posted by islam94 on August 8, 2011

Dalam beberapa tahun terakhir, seperti hal di negara-negara Eropa lainnya, Islam berkembang pesat di Swedia. Selain kedatangan imigran Muslim, juga banyak warga asli Swedia yang memeluk Islam. Di negeri ini, nama Muhammad bahkan menjadi nama yang paling populer, sekolah-sekolah untuk muslim mulai didirikan dan banyak orang Swedia yang kini mulai beralih ke makanan halal. Namun tidak semua pihak senang melihat pertumbuhan Islam yang pesat di Swedia. Khususnya kalangan nasionalis yang dengan segala cara mendiskreditkan Islam, terutama lewat media massa. Mereka juga membuat propaganda-propaganda anti-Islam dan anti-Muslim. Ole, adalah satu orang Swedia yang masuk Islam, dan sekarang menggunakan nama islami Umar Abdullah. Ia mulai tertarik mempelajari Islam setelah peristiwa serangan 11 September 2001 di AS. “Saya terkesima menyaksikan kebrutalan serangan teroris pada 11 September 2001. Media massa berlomba-lomba menegaskan bahwa serangan itu dilakukan oleh orang-orang Islam yang terinspirasi dari Al-Quran. Saya jadi bertanya-tanya, buku macam apa yang membuat orang melakukan kekerasan semacam itu,” kata Umar yang sebelumnya seorang ateis. Terdorong rasa ingin tahu, ia pergi ke perpustakaan dan mencari Al-Quran. Ia membaca ayat-ayat dalam Al-Quran yang justru membuat Umar sadar bahwa media massa telah berbohong. “Alih-alih menemukan hasutan agar orang melakukan kekerasan. Saya menemukan pesan cinta, perdamaian dan rahmat dalam Al-Quran. Kalimat pertama ‘dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang’ membuktikannya,” tutur Umar. “Saya senang telah menemukan kebenaran, tapi pada saat yang sama saya marah karena selama bertahun-tahun saya tertipu oleh pemberitaan media massa tentang Islam dan Muslim,” sambungnya. Setelah membaca isi Al-Quran, Umar lalu mengunjungi sebuah masjid kecil di Stockholm. Di sana ia belajar agama Islam dan di masjid itu pula ia mengucapkan dua kalimat syahadat. Setelah menjadi seorang muslim, Umar memiliki saudara-saudara baru yang seiman, mereka berasal dari berbagai negara dan latar belakang. Berdasarkan pengalamannya, Umar Abdullah berpesan agar non-Muslim jangan terlalu percaya dengan pemberitaan negatif media massa Barat tentang Islam dan Muslim. Ia menyarankan, untuk mengetahui kebenaran tentang Islam dan Muslim, sebaiknya seseorang membaca sendiri isi Al-Quran. Selain Umar, ada Cecilia, perempuan Swedia yang mengenal Islam dari teman sekelasnya. Ceritanya berawal saat orang tua Cecilia memaksanya untuk mengambil pelajaran tambahan bahasa Jerman. Di kelas bahasa Jerman, Cecilia bertemu dengan seorang muslimah asal Somalia bernama Shahrin. Shahrin sangat menarik perhatian Cecilia, karena gadis Somalia itu selalu terlihat sedang membaca buku. Bahkan di jam istirahat, Cecilia melihat Shahrin tak lepas dari buka bacaan. “Buat saya, Shahri sangat menakjubkan. Bagaimana bisa seseorang punya minat baca yang begitu tinggi,” ujar Cecilia. Ia lalu berkenalan dengan Shahrin dan Cecilia baru tahu kalau Shahrin adalah seorang muslim. Ketika ditanya mengapa Shahrin selalu membaca buku, Shahrin menjawab bahwa mencari ilmu pengetahuan adalah kewajibab seorang muslim dan ia mencari ilmu dengan cara banyak membaca. Cecilia banyak berdiskusi tentang agama dengan Shahrin, yang membuka mata Cecilia tentang ajaran Islam. Sejak itu, Cecilia mulai bergaul dengan muslimah lainnya di sekolah. Ia banyak bertanya tentang Islam pada teman-teman muslimnya itu. Cecilia mengaku terpesona dengan ajaran Islam, dengan doktrin yang sederhana dan konsep monoteisme yang mendalam. Ia melihat agama Islam memberikan jalan keluar semua masalah dalam kehidupan manusia. Meski tertarik dengan Islam, Cecilia belum berani memutuskan untuk masuk Islam. Ia melihat kecenderungan masyarakat Swedia yang masih berprasangka buruk terhadap Islam dan Muslim. Cecilia juga mengaku khawatir dengan reaksi orang lain jika ia memutuskan menjadi seorang muslim. Ketua Dewan Islam Swedia, Helena Benaouoda mengungkapkan, secara umum minat masyarakat Swedia terhadap Islam makin besar. “Banyak yang datang ke pusat informasi kami dan bertanya banyak hal tentang Islam. Bahkan mereka yang menyebut diri mereka ateis dan sedang mencari makna hidup secara spiritual, banyak yang tertarik dengan agama Islam,” ujar Helena yang juga seorang mualaf. Data statistik resmi pemerintah Swedia menunjukkan terdapat 400.000 Muslim di Swedia, 5000 orang diantaranya adalah orang Swedia asli. Helena mengatakan, jumlah Muslim di negerinya kemungkinan lebih besar dari data yang dimiliki negara.

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

bolekah panggilan mama atau papah antara suami istri?

Posted by islam94 on August 8, 2011

Perkataan seorang suami kepada istrinya : kamu ummi (ibuku) atau ukhti (saudara perempuanku) atau ya mama mengandung zihar akan tetapi terjadi atau tidaknya zihar tersebut tergantung dari niatnya, berdasarkan sabda Rasulullah saw,”Sesungguhnya amal tergantung dari niat dan tiap-tiap orang tergantung dari apa yang dia niatkan” Muttafaq alaihi

Pada umunya seorang suami mengatakan seperti kata-kata diatas umtuk sebuah kelembutan atau penghargaan sehingga tidak terkategorikan sebuah zihar yang menjadikan istrinya haram bagi suaminya.

Ibnu Qudamah –semoga Allah merahmatinya—didalam kitab “al Mughni (8/6)—mengatakan,”Apabila seseorang mengatakan : Kamu bagai ummi atau seperti ummi dan jika ia meniatkan zihar maka terjadi zihar maka ia adalah zihar, menurut pendapat kebanyakan ulama. Sedangkan jika dia meniatkan sebuah kemuliaan dan penghargaan maka ia bukanlah zihar walaupun seseorang mengatakan : kamu ummi atau istriku ummi.”

Al Lajnah ad Daimah pernah ditanya tentang perkataan sebagian orang kepada istrinya,”Aku saudara lelakimu, kamu saudara perempuanku, maka apa hukumnya?”

Al Lajnah menjawab, ”Apabila seorang suami mengatakan kepada istrinya kamu ukhti, atau kamu ummi atau seperti ummi, atau kamu disisiku seperti ummi atau seperti ukhti maka jika dia menginginkan dengan perkataannya itu seperti apa yang disebutkannya berupa kemuliaan atau adanya hubungan dan kebaikan atau penghormatan atau tidak ada padanya niat atau bukti-bukti yang menunjukkan keinginannya untuk zhihar maka apa yang dikatakannya itu bukanlah zhihar dan tidak dikenakan apa-apa terhadapnya.

Akan tetapi, apabila dengan kata-kata itu atau sejenisnya menginginkan zhihar atau terdapat bukti yang menunjukkan adanya zhihar seperti munculnya kata-kata marah atau murka terhadapnya maka ia adalah zhihar yang diharamkan dan diharuskan baginya bertaubat serta kafarat sebelum dia mencampurinya berupa membebaskan budak. Sedang jika dia tidak mendapatkannya maka diharuskan baginya berpuasa selama dua bulan berturut-turut. Dan jika dia tidak menyanggupinya maka diharuskan baginya memberi makan enam puluh orang. (al Lajnah ad Daimah 20/274)

Kedua :

Sebagian ulama memakruhkan perkataan seorang suami kepada istrinya “Ya Mama atau ya Ukhti.” Berdasarkan riwayat Abu Daud (2210) bahwa seorang lelaki mengatakan kepada istrinya : Ya saudara perempuanku, maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Saudara perempuanmu kah dia! Beliau pun tidak menyukainya dan melarangnya.”

Yang benar adalah bahwa hal itu tidaklah makruh karena hadits tersebut tidaklah shahih dan telah dilemahkan oleh al Albani didalam “Dhaif Abu Daud”.

Syeikh Ibnu ‘Utsaimin—semoga Allah merahmatinya—pernah ditanya : Apakah dibolehkan bagi seorang suami mengatkan kepada istrinya ‘Ya Ukhti” dengan maksud cinta saja atau “Ya Ummi” dengan maksud cinta semata.

Beliau menjawab,”Ya, dibolehkan bagi seorang suami mengatakan kepadua istrinya : wahai Ukhti atau wahai Ummi atau kata-kata serupa yang menunjukkan rasa sayang dan cinta walaupun sebagian ahli ilmu memakruhkan perkataan suami kepada istrinya dengan ungkapan-ungkapan demikian. Akan tetapi tidaklah ada alasan memakruhkannya karena sesungguhnya amal perbuatan tergantung dari niatnya. Sementara lelaki itu tidaklah meniatkan dengan kata-kata itu bahwa istrinya adalah saudara perempuannya yang diharamkan karena mahramnya. Sesungguhnya ia mengatakan demikian dengan maksud sayang dan cinta kepadanya. Dan segala sesuatu yang menjadi sebab kecintaan diantara suami istri baik yang keluar dari suami maupun istri maka hal itu adalah perkara yang dituntut.”

Sebagaimana penjelasan diatas bahwa hendaklah panggilan seorang suami terhadap istrinya atau sebaliknya adalah panggilan yang berisi penghormatan atau penghargaan yang dengannya bisa saling menguatkan perasaan cinta dan sayang diantara mereka berdua.

Seperti panggilan Rasulullah shalalllahu ‘alahi wa sallam terhadap istrinya dengan sebutan “wahai Humairo” (Yang kemerah-kemerahan), sebagaimana disebutkan didalam beberapa haditsnya, diantaranya hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Aisyah bahwa Rasulullah bersabda,” Beliau menjawab: “Wahai Humaira, barangsiapa memberi api seakan-akan ia telah bersedekah dengan semua yang telah dimatangkan oleh api itu, barangsiapa memberi garam, seakan-akan ia telah bersedekah dengan semua yang telah dibuat nikmat oleh garam itu, barangsiapa memberi minum seorang muslim satu teguk saat ia mendapatkan air, seakan-akan ia telah membebaskan seorang budak, dan barangsiapa memberi minum seorang muslim satu teguk saat ia tidak mendapatkan air, maka seakan-akan ia telah menghidupkannya.”

Meskipun hadits diatas atau hadits-hadits lainnya yang berisi panggilan Rasulullah shalallahu ‘alaihi terhadap istrinya dengan “Wahai Humairo” adalah lemah, sebagaimana disebutkan Syeikh al Albani didalam kitab “as Silsilah adh Dhaifah” namun secara makna panggilan tersebut dapat menyenangkan hati istri dan mengeratkan cinta dan sayang diantara suami istri.

Wallahu A’lam

Posted in Uncategorized | Leave a Comment »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.